Selasa, 15 Desember 2009

RAPUHNYA HATI DRUMMER

Aku JOJO, aku sekolah di SMA BUNDA. Aku menduduki bangku kelas XI. Aku adalah salah satu personil dari grup band JETJET, aku memegang kendali sebagai penabuh drum atau istilahnya drumer di band JETJET. Band-ku sering tampil di acara – acara ulang tahun sekolah. Di pagi yang cerah ini disambut sang mentari yang tersenyum ceria, kumulai hari - hari-ku dengan sebuah senyuman, senyuman yang selama 2 minggu terakhir ini tidak pernah aku tampakkan dalam raut wajahku. Aku sama sekali tidak bisa tersenyum pada 2 minggu terakhir ini, aku hanya bisa cemberut dan termenung diam. Mata ku pun hanya menatap sebuah titik, aku membayangkan apa salahku selama ini sampai - sampai kejadian yang tidak aku inginkan ini bisa terjadi. Tetepi karena teman – teman ku yang menyarankan untuk melupakan semua kejadian yang sudah pernah aku alami, aku dapat tersenyum ceria lagi.

Kejadian ini awalnya bermula ketika 1 bulan terakhir ini grup band ku di undang dalam acara ulang tahun SMA TUNGGAL di daerah Jakarta Selatan. SMA TUNGGAL ber-ulangtahun yang ke-10. Band JETJET dipercayai untuk membawakan 2 lagu yang paling populer. Sehari sebelum kami naik ke atas panggung, kami latihan di rumahku, kebetulan di rumahku ada studio band yang bisa di bilang cukup sederhana. Keesokan harinya, ketika pagi aku memanaskan mobilku dulu. Setelah itu aku menyetir mobilku menuju cafĂ© OBONK’s, di situlah biasanya tempat kami nongkrong dan berkumpul (bahasa gaulnya sih BASECAMP). Ketika aku sudah sampai ke OBONK’s, sudah ada teman-temanku yang sudah menunggu kedatanganku.

“Hai bro… Udah nunggu dari tadi ya??” aku keluar mobil dan bertanya dengan sedikit rasa takut, takut di omelin.

“Sompret lo..!!! kita semua udeh nungguin lo dari tadi …!!! Ngaret mulu lo…” jawab Jawir, ia pemimpin band kami yang menjadi vokalis.

“Iya iya… sorry, tadi di jalan macet, maklumlah gw telat, kan qlo pagi – pagi, orang pada berangkat kerja… jalanan pasti macetlah” aku menjawab sambil menaruh gitar dan bass ke dalam mobil Jazz ku.

“Aaaahh… alesan aja lo…” celetuk Lola, dia pacarnya Jawir.

“TerserAAAh…” kataku kesal

“Udah udah…” jawir memotong omonganku

“Sekarang gini, Dodi (Gitar), Banu (Bass), Andre (melodi) lo naik sama Jojo. Nah, Sisanya naik sama gw” Jawir menyuruh layaknya seorang pemimpin.

“Curang lo Wir… msa ga ada satu cewe yang naik ke mobil gw. Semua masuk ke mobil lo” kataku dengan rasa iri.

“Udah… ntar pulangnya gantian” jawabnya sambil tertawa.

“Jo, waktu kita tinggal 15 menit lagi nih, kalo bisa lo nyetirnya yang cepet ya…” katanya dengan tergesah – gesah sambil masuk ke dalam mobil.

“Iya iya gw usahain.” kataku sambil masuk ke dalam mobil.

Aku segera masuk ke dalam mobil, Dodi, Banu dan Andre naik ke mobilku. Sementara Diana, Lola, Tya dan Anggun, mereka naik mobil Jawir. Oiya, Diana, Tya dan Anggun mereka adalah penggemar kami, dimanapun kami manggung, mereka selalu ikut. Aku dan Jawir dengan cepatnya menyetir mobilku menuju SMA TUNGGAL, karena jadwal kami manggung itu kira – kira jam 10.30, sementara itu kami berangkat jam 10.15, butuh konsentrasi yang kuat untuk memacu kendaraan kami menuju lokasi kami manggung, karena jaraknya juga cukup jauh. Tetapi aku dan Jawir memilih untuk lewat Jalan Bebas Hambatan (Jalan Tol). Aku memacu Jazz ku dengan kecepatan penuh, sampai sampai aku tidak melihat kalau si Jawir sudah tidak ada di belakangku lagi. Dia tertinggal jauh, maklumlah kan mobil si Jawir Kijang LGX, jadi tidak ada bandingannya dengan Jazz ku.

Setelah aku memacu mobil ku dengan cepat, akhirnya aku sampai juga di SMA TUNGGAL. Sampai di lokasi, aku di sambut panitia acara. Aku di tegor karena aku telat 10 menit dari jadwal. Seperti biasa, aku menggunakan alasan ku yang sebelumnya sudah ku lontarkan kepada Jawir.

“EH, LO GIMANA SI… LO UDAH TELAT 10 MENIT DARI JADWAL LO NEEEEH…” tegur Reno dengan keras, dia ketua panitia acara.

“Sorry sorry… tadi macet banget, ada penutupan jalan 20 menit, soalnya presidan lewat.” Kataku, karena Jawir belum datang, akhirnya aku yang bicara.

“Ya udah, lo siap siap ke belakang panggung sana” katanya sambil menunjuk ke arah belakang panggung.

“Ntar dulu, vokalisnya belum dateng” kataku sambil duduk menunggu kedatangan Jawir.

Tidak lama setelah aku di tegur ketua panitia acara, Jawir datang. Aku lalu menghampirinya.

“Wir, tenang aja… lo ga usah ngomong ke Reno, udah gw tanganin” kataku sambil berbisik ke arah Jawir.

“Ren, Sorry ya gw telat” Jawir menyapa.

“Iya iya… Ya udah lo sekarang siap – siap ke belakang panggung” sambil menunjuk lagi ke arah belakang panggung.

Aku dan yang lain menuju ke belakang panggung, sementara para gadis – gadis yang ikut kami, mereka menonton di depan panggung. Kedatangan kami di sambut meriah penonton yang sudah menunggu lama. Tak lama setelah kami bersiap siap memakai kostum, kami di panggil ke atas panggung. Aku segera mangganti simbalnya, merubah posisi pedal kaki. Aku dengan konsentrasi penuh memainkan drum yang sudah menjadi makanan ku sehari – hari di dalam studio rumahku. Setelah aku memainkan drum ku sebagai pemanasan, Andre menyambut permainan dengan melodinya yang membuat penonton berdecak kagum. Akhirnya Jawir bernyanyi membawakan hits lagu JETJET yang cukup terkenal, yaitu STOP KEKERASAN. Hampir semua penonton yang ada di depan panggung hapal dengan lagu itu. Setelah puas membawakan lagu STOP KEKERASAN, kami membawakan hits terbaru kami, yang mungkin hanya beberapa orang saja yang tahu lagunya, yaitu GRAFITTY. Setalah kami membawakan 2 lagu, penonton bertepuk tangan menandakan band kami cukup memuaskan di hati mereka.

Aku dan personil JETJET yang lain lalu menuju belakang panggung untuk ganti baju. Setalah ganti baju, aku ijin sama jawir untuk ke kantin duluan, karena perutku sudah lapar. Sesempainya di kantin, aku duduk di pojok kantin, karena hanya 2 bangku yang kosong, yaitu bangku yang aku duduki dan sampingya. Lalu aku memesan nasi goreng ala SMA TUNGGAL. Tak lama setelah aku memesan makanan, aku melihat sesosok bidadari cantik, yang menuju ke arah kantin. Rambutnya yang panjang, kulitnya yang putih, wajahya yang cantik. Sungguh nyata, sosok wanita yang aku dambakan hanya dalam mimpi, kini duduk di sebelah ku. Sepertinya ini anugerah dari Allah, yang menurunkan wanita cantik dari langit ke tujuh. Sepertinya bidadari itu mencari bangku kosong, kebetulan bangku di sampingku kosong. Bidadari itu lalu menuju bangku yang ada di sebelahku. Jantungku berdebar – debar ketika ia duduk di sampingku, bidadari itu sangat wangi, entah aroma parfum apa yang ia semprotkan ke tubuhnya yang membuat ia begitu harum. Untung saja aku tidak punya penyakit jantung. Kalau saja aku punya, bisa – bisa aku langsung mati ketika ia duduk. Tak lama setelah ia duduk, aku menoleh ke arahnya dengan sedikit senyuman. Dan yang lebih mengagetkan lagi, ternyata bidadari itu membalas senyumanku. Sungguh memerah wajahku, aku gugup harus berkata apa, ingin berkenalan tapi aku malu. Tak lama, bidadari itu memesan makanan, dengan suara yang sedikit lembut memesan kepada mas – mas kantin, jantungku rasanya mau copot mendengar ucapannya yang terdengar kian lembut di telingaku.

Makanan pesanan ku akhirnya datang juga, kini nasi goreng yang aromanya khas di hidungku, sudah siap di santap. Setelah aku kenyang menyantap nasi goreng itu, aku memesan minuman es jeruk dan sesekali aku melihat wajahnya yang cantik itu memakan mie ayam. Bidadari itu menyudahi makannya dengan meminum es kelapa yang ada di hadapannya. Setelah makan, aku sibuk memencet HP. Begitu pun bidadari itu, dia sibuk dengan HP-nya. Tak lama, ia menyapa ku.

“Hai…” sahutnya

“Ha.. Haai jugga” jawabku dengan gerogi, karena jarang sekali ada cewe yang menyapa duluan, rata – rata yang menyapa duluan itu cowo.

“mmm, kamu drumer-nya JETJET ya?” sahutnya dengan suara yang lembut.

“i.. iya… ko kamu tau si…” jawabku masih gerogi

“iya lah, kan pas kamu naik ke atas panggung, aku ngeliatin kamu dari samping panggung, kamu mainnya bagus banget, aku ga pernah ngeliat orang main drum sebagus kamu” ujarnya, dengan sedikit senyuman.

“makasih ya… mmm, kamu sendirian aja? Mana temen – temen kamu?” Tanyaku, sekarang masalah gerogi ku sudah bisa ku atasi sedikit.

“iya nih… temen – temen aku belum ada yang datang, makanya aku langsung ke kantin aja” jawabnya sambil melirik ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari teman – temannya.

“Mungkin temen – temen lo kena macet kali… Oiya, kita ngobrol dari tadi, tapi kita sama sama belum tahu nama” ujarku sambil tersenyum ke arahnya.

“Oiya ya… kita dari tadi so akrab banget…” jawabnya sambil tersenyum manis

“Nama ku Jojo” kataku sambil menjulurkan tanganku.

“Namaku Puput” katanya sambil menjabat tanganku. Ya Allah, baru kali ini aku merasakan ada sensasi berbeda ketika aku menjabat tangannya.

Ketika aku berjabat tangan dengannya, tiba – tiba temanku datang mengagetkan ku dari belakang.

“Woi..!!! ngapain lo Jo…” Jawir mengagetkan ku sambil menepuk bahuku

“Wet sets… Gila lo Wir, ngagetin gw aja” jawabku kaget sambil melepas tangan ku dari tangan Puput.

“Aaaahhhh…. Ganggu aja neh kampret” ujarku dalam hati.

“Siapa tuh Jo?” tanyanya berbisik sambil meirik ke arah Puput.

“ammm… temen gw…" jawabku ragu. Aku malas mau ngenalin Puput ke Jawir, soalnya si Jawir itu Playboy.

“Boong lo…” ujarnya, karena dia tidak percaya.

“Ngapain lo ke sini?” kataku. Sambil mengalihkan pembicaraan.

“Si Dodi, Banu, sama Andre mau nonton sama cewenya, dia ga bareng lo” katanya.

“Trus, apa hubunganya ama gw?” tanyaku penasaran.

“Lah, kan gitar – gitar mereka di taro di mobil lo, masa dia nonton sambil bawa – bawa gitar” jawabnya sambil tertawa.

“Oiya… nih kunci mobil gw.” kataku sambil menyerahkan kunci mobil ku ke Jawir

“Ntar gw ke sini lagi, mau balikin kunci lo” katanya sambil berjalan meninggalkan aku dan Puput.

“Tadi Vokalis band kamu ya?” ujar Puput memotong omongannya Jawir

“Iya, namanya Jawir” jawabku sambil menatap matanya.

“mmm, sebentar ya… ada telefon dari temen aku” ujarnya sambil mengambil Hpnya.

“Yaaah… lo mah parah si… gw udah nunggu dari tadi nih… ntar gw pulang sama siapa dong? Masa naik angkot… ahh, parah lo!!” katanya sambil menggertak, seolah – olah dia kecewa karena temannya tidak bisa datang ke sekolah.

“mmm, kalo boleh tau, kamu barusan kenapa marah – marah?” tanyaku dengan suara pelan.

“Temen aku ga bisa dateng” jawabnya singkat.

“Owh… trus kamu pulang sama siapa?” tanyaku. Aku sangat mengharapkan untuk dapat mangantarkan Puput pulang.

“Ga tau, paling aku naik angkot” katanya sambil cemberut.

“mmm… kalo aku anterin kamu pulang, boleh ga?” tanyaku dengan ragu

“Ga usah ga usah… aku ga mau ngerepotin kamu.” Celetuk Puput.

“Gapapa qo, lagian juga aku ga ngerasa di repotin qo…” kataku sambil memegang tangannya yang halus itu.

“Terserah kamu deh…” katanya tersipu malu.

“Ya udah kita pulang sekarang yuk, udah siang neh…” kataku sambil menatap matanya.

“Loh, kan kunci mobil kamu masih sama temen kamu, mana bisa pulang sekarang” spontan Puput berkata,. Karena memang kunci mobil ku masih sama Jawir. Lalu aku menelefon Jawir, ternyata Jawir sudah ada di belakang ku.

“Eh, ngapain lo pake nelfon – nelfon gw?” celetuk jawir mengagetkan ku dari belakang lagi.

“Sialan lo… kirain gw, lo masih di parkiran, mana kunci mobil gw. Gw mau pulang” kataku sambil menjulurkan tanganku.

“Enak – enaaaakan lo maen pulang – pulang aja… Gantian tuh si Diana, Tya sama Anggun naik mobil lo” katanya.

“Waduh… Sorry banget ya Wir, gw mau nganterin temen gw pulang neh. Mana kuncinya…” kataku sambil mencari kunci yang di sembunyikan di kantong belakang.

“Ya udah neh…” katanya sambil menyerahkan kunci itu pada ku.

“Besok latihan kan?” katanya sambil duduk di sampingku.

“Yaelah… lo kapan aja mau latihan, tinggal dateng ke rumah gw. Yaudah, gw balik ya…” kataku sambil memegang tangan Puput meninggalkan kantin.

“Ati – ati ya Jo…” katanya sedikit teriak.

Ya Allah… Aku berani bergandengan tangan dengan Puput!!! Ooooh… Suatu keajaiban yang tak terduga yang tiba - tiba muncul dalam diriku. Aku dengan beraninya menggandeng tangannya. Aku seolah – olah sudah dekat sekali dengannya. Terkadang, aku saling memandang dan saling memberi senyuman. Aku merasa kalau aku adalah Lelaki yang beruntung yang bisa berjalan berdua sambil bergandengan. Lalu, setibanya di parkiran, aku dan Puput segera menuju Jazz ku. Puput kaget melihat Jazz ku yang begitu bagus ekteriornya, karena aku memakai body-kit pada Jazz ku, dia berdecak kagum pada Jazz ku.

“Bener ini mobil kamu Jo?” dia bertanya pada ku.

“Iya… sebentar ya, aku bukain dulu pintunya.” Aku berjalan menuju pintu kursi penumpang sambil membukakan pintu. Dia sangat kaget ketika melihat pintu mobilku terbuka ke arah atas. Pintu mobil ku sudah ku modif memakai pintu model gunting, jadi pintunya terbuka ke arah atas. Puput masuk ke dalam mobil ku, lalu aku masuk ke mobilku. Aku mengendarai mobilku menuju rumahnya. Di perjalanan, aku dan Puput mengobrol dekat sekali, seolah olah aku dan Puput sudah pacaran. Tapi ini baru kenal, baru kenal saja sudah sangat dekat, apa lagi kalu sudah jadian. Di tengah perjalanan, Puput memuji ku.

“Mobil kamu bagus banget Jo…” katanya sambil melihat interior mobilku.

“Ah, biasa aja tuh Put” kataku sambil menoleh ke arahnya.

Lalu aku bertanya pada Puput dimana rumahnya. Ternyata, rumahnya di Pondok Indah, rumah yang bagiku itu adalah rumahnya orang – orang kaya. Aku terdiam kaget dan bertanya lagi seolah olah aku tidak percaya. Ternyata benar, aku di pandu Puput menuju sebuah rumah besar yang sangat mewah. Aku berhenti di depan rumahnya yang besar dan mewah itu dan aku melihat sebuah mobil Swift di parkir di depan garasinya. Puput turun dari mobilku dan berputar menuju pintu kemudi dan dengan sedikit bungkuk menatap ke arah ku.

“Makasih ya Jo…” katanya dengan suara yang lembut

“iya… sama sama. Itu mobil siapa Put?” kataku sambil melirik mobil Swift merah yang ada di depan garasinya.

“Itu mobil aku, tapi aku belum bisa bawa mobil.” Katanya tersipu malu.

“Loh… kenapa kamu ga belajar bawa mobil?” kataku

“Aku sih mau belajar, tapi ga ada yang ngajarin aku… Papa sama Mama sibuk kerja.” Katanya.

“Oh gitu… besok kamu ada acara ga?” tanyaku

“Ga ada… emang kenapa?” katanya sambil menggelangkan kepala

“Nah… mumpung kamu ga ada acara, gimana kalo besok aku ngajarin kamu bawa mobil? Kebetulan besok hari minggu” ujarku.

“mmm… ya udah deh” katanya

Akhirnya aku pulang dengan beribu ribu kegembiraan. Pagi harinya, tepetnya hari minggu aku bergegas untuk berangkat ke rumah Puput. Sesampainya di rumah Puput, ku ketuk pintu rumahnya 3x, tak lama pambantunya membukakan pintu. Aku dipersilahkan masuk, bagian dalam rumahnya luas banget, aku terdiam menganga memandangi setiap detil isi rumahnya. Tiba – tiba dari arah lantai 2 ada yang memanggilku, ku lihat ke arah atas ternyata itu Puput. Dia baru saja selesai berdandan, lalu dia turun menghampiri ku. Dia langsung mengajak aku untuk segera mengajarinya menyetir mobil. Aku membawa mobilku ke depan rumahnya, kebetulan jalan di depan rumahnya sepi dan jalannya lurus walaupun ada beberapa polisi tidur. Aku bertukar tempat duduk dengan Puput, aku mengajarinya cara mengoper gigi yang benar. Ternyata hanya belajar 1 jam, Puput lancar mambawa mobilku. Lalu aku mengajarinya berparkir, dan dia langsung menguasainya. Sungguh hebat Puput, hanya belajar sehari ia mahir membawa mobil. Sore hari aku pulang dari rumah Puput dan langsung nge-band di rumahku.

Setiap malam aku selalu telefon – telefonan sama Puput, aku kangen sama Puput karena aku sudah seminggu tidak bertemu sama Puput. Seminggu ini, aku tidak sempat untuk mengantar dan mejemputnya pulang sekolah, karena aku berangkat sekolah jam 7 pagi dan pulangnya jam 4 sore, sementara dia berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 1 siang. Aku hanya bisa ketemuan sama Puput pada hari Minggu saja, karena pada hari minggu aku dan dia tidak ada acara kemana – mana selain ketemuan untuk nonton bioskop.

Minggu siang, aku ke rumah Puput untuk mengajak nonton bioskop, dan dia setuju denganku. Aku dan dia nonton bioskop, makan bareng, shopping bareng, hingga tak terasa sudah jam 8 malam. Aku mengajaknya pulang. Sesampainya di rumahnya, aku di sambut baik oleh Mamanya Puput. Puput langsung masuk ke dalam kamarnya, karena dia sangat capek sudah jalan seharian.

“eee Jojooo… duduk dulu sini.” sapa mamanya Puput

“iya tante…” sahutku

“Maaf ya tante, jam segini aku baru pulang…” sahutku dengan sedikit menunduk

“ga apa apa ko Jo… justru Tante seneng, akhirnya ada juga yang bisa ngajak jalan – jalan Puput” ujarnya

“oooh… kirain Tante marah sama aku” kataku sedikit malu – malu

“Tante, aku pamit pulang yah… udah malem, besok aku sekolah” kataku sambil berpamitan dengannya.

“Ya udah… hati – hati ya bawa mobilnya” katanya

“Iya tante…” ujarku

Sesampainya di rumah aku berfikir, karena minggu depan adalah saat yang aku tunggu karena minggu depan adalah tanggal 14 Februari, 14 Februari itu adalah Hari Valentine (hari kasih sayang). Aku pun berniat untuk menyatakan rasa sayang dan cinta ku pada Puput.

Ketika hari jum’at sepulang sekolah, aku pergi ke mall mencari benda yang Puput suka yaitu boneka Tazmania yang besar. Akhirnya aku mendapatkannya dengan harga yang cukup mahal sih, tapi tak apa lah toh cinta itu memang butuh pengorbanan. Esok harinya, aku ingin ke rumah Puput secara diam – diam, aku ingin memberi kejutan untuknya setelah itu aku ingin menyatakan cinta ku kepadanya. Sesampainya di depan rumah Puput, aku melihat ada mobil Nissan yang di parkir di depan garasinya, aku hanya berfikir kalau itu adalah temannya atau pamannya, tetapi ketika aku ingin mengetuk pintu, aku sudah ada fikiran yang tidak – tidak tentang siapa yang mempunyai mobil Nissan itu, mobil pamannya Corolla, teman – temannya ga ada yang punya mobil Nissan, tapi sudahlah aku tidak boleh negative thinking. Akhirnya aku buka pintu rumahnya yang besar itu tanpa ketukan pintu sambil aku membawa boneka Tazmania yang besar. Ketika aku membuka pintu, aku melihat Puput sedang menonton tv sambil berangkulan dengan seorang lelaki di sofa. Detak jantung ku sepertinya ingin berhenti melihat Puput duduk dirangkul dengan seorang lelaki yang tak aku kenal. Puput dan lelaki itu pun kaget ketika ada seseorang yang membuka pintu, mereka lalu berdiri sambil berpegangan tangan. Ketika Puput melihat bahwa yang membuka pintu itu adalah aku, Puput melepas tangannya dari lelaki itu dan langsung menghampiriku.

“Jojo… kamu ko ga bilang mau ke rumah aku…” ujarnya sambil menatapku.

“Ngapain aku harus bilang… aku tuh mau ngasih kejutan buat kamu, aku mau ngomongin sesuatu ke kamu. Tapi malah kamu yang ngasih kejutan ke aku… ammm, ini buat kamu(sambil memberikan boneka Tazmania yang besar ke Puput), jaga baik – baik ya… aku cinta kamu” aku tak bisa menahan air mata yang menetes.

“Aku bisa jelasin semuanya ke kamu, dia bukan pacar aku, dia…”aku memotong perkataannya..

“aaahhhh… udah deh, simpen aja penjelasan kamu itu, lagi pula kalo dia bukan pacar kamu, ngapain dia berani ngerangkul kamu, pegangan tangan sama kamu…” kataku sambil sedikit berlari menuju mobil.

“Jojo…maafin aku…” katanya.

Di dalam mobil, aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Inikah rasanya kalau patah hati? Hatiku hancur olehnya. Aku sudah berikan semua kepadanya, tapi mengapa harus ini yang dia berikan kepadaku. Dia memberikan aku kehancuran. Aku tidak bisa menerimanya, 2 minggu aku hanya bisa melamun dan melamun kadang – kadang aku tidak makan karena hanya memikirkan Puput, orangtua ku dan teman - temanku bertanya tanya kenapa aku selalu melamun dan tidak mau makan, aku lalu menjelaskannya. Tetapi semua orang yang memberi masukan kepadaku hanya berkata “udahlah… masih banyak cewe cewe yang lebih cantik dan perhatian sama lo”. Aku hanya tersenyum mendengar semua perkataan teman – teman ku. Tetapi, lama kelamaan apa yang di katakan teman – teman ku ada benarnya juga. Ngapain aku hanya memikirkan Puput, dia sudah nyaman dengan sesosok lelaki lain. Mungkin aku hanyalah boneka baginya yang hanya bisa dimainkan seenaknya saja. Setelah kejadian ini, aku membuat prinsip dalam hidupku bahwa aku jangan hanya melihat seseorang dari fisiknya saja, tetapi hatinya. Apakah orang itu mencintai aku dengan setulus hatinya atau dengan terpaksa?. Terima kasih teman – temanku yang sudah memberi masukan kepadaku, tanpa kalian mungkin aku tidak bisa berdiri lagi menjadi seorang drumer sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar